5 Fakta Bocah di Bantul Tewas Usai Makan Takjil, Diberi Orang Tak Dikenal, Ini Pengakuan Ayah Korban

Tewasnya seorang bocah setelah memakan takjil berupa sate dari pemberian orang tak dikenal menghebohkan warga Kabupaten Bantul. Diketahui korbannya adalah NFP yang masih berumur 8 tahun. Bocah yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) itu berasal dari Kelurahan Bangunharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul.

Ia meninggal dunia diduga keracunan makanan, Minggu (25/4/2021) kemarin. Siswa kelas empat itu meninggal dunia setelah menyantap takjil berupa sate pemberian orang tak dikenal yang diterima oleh ayahnya yang bekerja sebagai pengemudi ojek online (Ojol). Bagaimana kelengkapan informasi dari kasus ini? Berikut rangkuman fakta faktanya.

Kepala Sekolah SD Muhammadiyah IV Karangkajen, Jawadi mengatakan, dirinya mendapat kabar jika anak didiknya telah meninggal dunia sekitar pukul 18.15 WIB. Ia ditelepon oleh seorang staf sekolah di SD Muhammadiyah IV Karangkajen yang mengabarkan bahwa murid berinisial NFP dinyatakan meninggal karena keracunan. Saat itu juga, Jawadi meminta para guru untuk memastikan kebenaran informasi tersebut.

Jawadi sempat tak percaya, karena menurut pengetahuannya jika seseorang keracunan makanan tidak mungkin bereaksi sangat cepat. "Kalau keracunan makanan itu gak mungkin langsung meninggal. Anak itu kan meninggalnya pas ketika di jalan menuju rumah sakit. Tapi ya sekarang masih diselidiki polisi," jelas Jawadi. Jawadi menuturkan, pada Minggu sore, NFP masih terlihat mengikuti kegiatan pengajian yang diadakan di sebuah masjid tak jauh dari tempat tinggalnya.

Saat menjelang magrib, NFP izin pulang karena berniat untuk buka puasa bersama bapak dan ibunya di rumah. "Magrib itu bapaknya pulang bawa makanan, bawa sate. Setelah itu dimakan bersama sama, dan tak lama ibu dan NFP itu keracunan," tuturnya. Ditemui terpisah, orang tua NFP, Bandiman masih terlihat syok atas kejadian yang menimpa keluarganya pada Minggu sore.

Pria yang akrab disapa Bandi itu menjelaskan, kronologi awal kejadian itu bermula ketika dirinya habis istirahat dan seusai menunaikan salat Ashar di sebuah masjid di Kota Yogyakarta. Tiba tiba Bandi dihampiri oleh perempuan tak dikenal dan ia dimintai tolong untuk mengantarkan sebuah paket berisi sate bakar ke wilayah Kasihan, Kabupaten Bantul. "Waktu saya siap siap jalan, tiba tiba ada perempuan menghampiri saya. Dia minta tolong antarkan paket takjil ke daerah Kasihan ke pak Tomy. Saya bilang, pakai aplikasi saja. Terus mbaknya alasannya gak ada aplikasi Ojol," jelasnya.

Sore itu juga Bandi bergegas menuju rumah penerima paket yang berada di daerah Kasihan, Kabupaten Bantul. "Dia minta offline , ya saya antarkan ke penerima tersebut. Perempuan itu berpesan, pengirim atas nama pak Hamid," ungkap dia. Sesampainya di rumah tujuan penerima paket, Bandi lalu menelepon ke nomor kontak bernama Tomy yang diberikan oleh perempuan yang ia temui di masjid.

Telepon Bandi pun direspon oleh Tomy. Namun terjadi proses konfirmasi yang cukup lama karena keluarga Tomy merasa tidak memesan makanan apa pun pada hari itu. "Saya tanya, lah ini paket sudah sampai alamatnya bener, nomornya bener kok ndak diterima. Terus bapaknya bilang, udah dibawa kamu saja pak, buat buka puasa," terang dia.

Setelah pemilik rumah enggan menerima paket kiriman misterius itu, Bandi kemudian pulang menuju rumah dengan membawa satu paket sate bakar untuk berbuka puasa. Sesampainya di rumah, istrinya bernama Titik Rini dan NFP kemudian membuka paket sate bakar yang dibawa oleh Bandiman. Bandiman, beserta istri dan NFP kemudian memakan sate tersebut.

Tak berselang lama, NFP yang memakan begitu lahap mengeluhkan rasa sate yang pahit. "Pas saya makan itu gak apa apa. Ternyata racunnya itu ditaruh dibumbunya. Anak saya bilang bumbunya pahit. Dia lalu ke dapur dan sudah muntah muntah. Istri juga muntah muntah. Pas tak pastikan anak saya sudah tidak sadarkan diri," jelasnya. Karena panik Bandi kemudian membawa putranya ke rumah sakit terdekat.

Sayangnya, NFP sudah tak tertolong lagi. "Sudah meninggal pas perjalanan ke rumah sakit. Tapi hasil pemeriksaan di laboratorium itu katanya racunnya lebih kuat dari racun pupuk pertanian," pungkasnya. Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah DIY, dr Joko Murdiyanto, enggan banyak berkomentar.

Ia menambahkan, sebagai pelajaran dari kasus ini, pemerintah harus mulai memikirkan regulasi terkait makanan pesan antar. Sebab, jika tidak berhati hati, dapat memakan korban sebagaimana kasus ini. “Zaman sekarang itu harus hati hati. (Makanan) itu dari mana kita enggak tahu. Warung makan yang menyediakan pesan antar itu datanya harus betul betul jelas, ini kan susah,” bebernya.

“Untuk kehati hatianan, harus ada regulasinya karena ini berdampak pada keselamatan orang. Warung makan yang menerima pesanan harus cek betul yang mengirim dan sebagainya. Keamanan pangan harus terjamin,” sambung Joko. Joko mencontohkan, regulasi terkait pemberian obat kepada pasien. Yang mana sudah memiliki beberapa aturan ketat, semisal harus diserahkan oleh seorang apoteker, data pasien harus jelas, terdapat tanggal lahir pasien, ada penjelasan efek samping obat, dan sebagainya. “Pemerintah harus memikirkan. Karena tugasnya melindungi masyarakat. Di balik semua kemudahan kemudahan itu kita harus lebih berhati hati,” tandasnya.

Kapolsek Sewon, Kompol Suyanto mengatakan saat ini pihaknya masih menunggu hasil laboratorium sisa sate yang dikonsumsi oleh Naba. Makanan yang dikonsumsi oleh Naba dan ibunya tersebut saat ini sudah dikirimkan ke Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi Yogyakarta untuk diteliti kandungannya. "Kami masih menunggu hasil laboratorium. Dugaan dari makanan, makanya kami menunggu hasil pemeriksaan makannya. Saat ini masih belum keluar (hasil laboratorium), mungkin tidak lama lagi,"katanya, Selasa (27/04/2021).

Polsek Sewon tidak melakukan autopsi jenazah bocah 8 tahun itu. Hal itu karena pihak keluarga keberatan. Sembari menunggu hasil pemeriksaan laboratorium, pihaknya melakukan pendalaman pemeriksaan. Salah satunya dengan mengambil keterangan dari saksi saksi.

Hingga saat ini sudah ada sekitar empat saksi yang diperiksa. Saksi tersebut berasal dari keluarga korban dan juga dari penerima makanan yang asli (Tomy). "Saksi sudah kami ambil keterangan, dari keluarga korban termasuk orangtua, kemudian penerima makanan itu.

Kan istrinya di rumah, kemarin ayah korban kan bertemu dengan istri Tomy dulu sebelum akhirnya dibawa pulang,"terangnya. Polisi juga juga sudah melakukan olah tempat kejadian perkara, termasuk di lokasi pertama Bandiman, ayah korban menerima pesanan offline. "Kami sudah cek ke sana dengan INAFIS juga dengan puskemas. Kita cek apakah ada kemungkinan CCTV yang merekam, karena di sana banyak sekali pohon pohon,"tambahnya.

Kejadian seorang bocah di Bantul yang tewas usai makan sate pemberian orang tak dikenal viral di media sosial. Cerita ini pertama kali tersebar di Facebook Info Cegatan Jogja (ICJ) oleh akun bernama Fahmi Ansy. Fahmi menyebut ada seseorang yang mengunggah kisah memilukan yang menimpa tetangga desanya.

Hingga Selasa (27/4/2021), unggahan milik Fahmi Ansy sudah mendapat respons ribuan kali dari warganet. Berikut kisah lengkapnya: Assalamu'alaikum wrwb

Musibah kemarin yang menimpa tetangga desa saya Siswa SD Muh Karangkajen IV Yogyakarta Kronologi kejadian musibah yg menimpa keluarga mas Naba, ayahnya adalah ojeg onlain, istrirahat sejenak sekalian sholat ashar di Masjid, Ada orang minta tolong secara of line,datang minta tolong untuk mengantarkan sesuatu membawa bungkusan, dan didalam bungkusan tersebut ada dua kotak,memberikan alamat yang di tujukan,setelah sampai alamat yang di tuju,

Ternyata yang dikasih bungkusan tidak mau menerimanya karena merasa tidak kenal,terus bilang,dah bungkusan itu buat bapak saja, Lalu di bawa pulang oleh bpnya mas Naba,setelah sampai dirumah dan waktu berbuka puasa tiba lalu keluarga tersebut buka bersama,nah mas naba dapat ta'jil berupa nasi gudeg, setelah bungkusan yang bpknya bawa di bukak ternyata isinya sate lontong,mas Naba bilang(dah nasi gudegnya buat bp saja) Lalu mas Naba minta suapin sama ibunya (bu,dulang),ibunya menyuapi mas Naba lontong 1/2 sendok sama bumbunya,jafi mas Naba baru makan lonting 1/2 sendok sama bumbunya saja dan belum makan satenya,

Lalu mas Naba bilang kebelakang sama ibunya(maemnya buat ibu saja)dalam hitungan menit mas Naba di belakang jatuh tak sadarkan diri,ibunya juga baru makan lontong bumbunya tak sadarkan diri,kata ibunya,rasanya pedes pahit dan kaya nyangkut ditenggorokan, Alhamdulillah ibunya selamat.Tadi pagi habis shubuh sebagian anak2 MADIN menyolati dan membacakan tahlil buat Alm mas Naba.Semoga mas Naba khusnul khotimah dan keluarga yang ditinggalkan dilapangkan hatinya.Aamiinn Sumber dari ibu mas Naba

Leave a Reply

Your email address will not be published.